Kamis, 07 Maret 2013

1.    Pengertian manusia Pra aksara
Manusia pra aksara adalah manusia yang hidup sebelum tulisan dikenal. Karena belum ditemukan peninggalan tertulis, maka gambaran mengenai kehidupan manusia purba dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berupa :
a.    Fosil
Fosil adalah sisa – sisa kerangka makhluk hidup yang telah membatu, yang pada umumnya terdapat pada lapisan bumi. Diantara fosil – fosil tersebut ada yang dapat memberi petunjuk tentang kehidupan manusia pada jaman pra aksara, fosil itu disebut dengan fosil pandu / Leif Fosil.
b.    Artefak
Artefak adalah alat – alat yang digunakan manusia purba untuk menunjang kehidupannya.
c.     Abris Sous Roche
Abris Sous Roche adalah gua karang tempat perlindungan manusia purba. Abris Sous Roche banyak ditemukan di teluk Triton (Irian Jaya), Pulau Seram dan Sulawesi Selatan.
d.    Kejokken Moddinger
Kejokken Moddinger adalah tumpukan kulit kerang yang tinggi dan memanjang menyerupai bukit. Banyak ditemukan di Medan (Sumatra Utara) dan langsa (Aceh).
2.    Jenis – jenis manusia Pra aksara
Beberapa jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia sebagai berikut:
a.    Megantropus paleojavanicus (manusia raksasa dari Jawa)
Fosil Megantropus paleojavanicus merupakan jenis fosil paling tua di Indonesia. Fosil ini ditemukan di Sangiran. Jawa Tengah antara tahun 1936 – 1941. Penemunya adalah seorang peneliti Belanda yang bernama G.H.R Von Koenigswald.
Ciri – ciri Megantropus paleojavanicus adalah:
1)    Bebadan tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala.
2)    Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
3)    Tidak berdagu.
4)    Otot kunyah, gigi, dan rahang besar dan kuat.
5)    Makananya jenis tumbuh – tumbuhan.

b.    Pithecanthropus
Ciri – ciri Pithecanthropus adalah:
1)    Tinggi tubuhnya kira – kira 165 – 180 cm.
2)    Bdan tegap, namun tidak setegap Meganthropus.
3)    Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
4)    Otot kunyah tidak sekuat Meganthropus.
5)    Volume otaknya sekitar 900 cc.
6)    Hidaung lebar dan tidak berdagu.
7)    Makanannya bervariasi.
Fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia dikelompokan menjadi berbagai jenis:
a.    Pithecanthropus Erectus
Pithecanthropus Erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Fosil ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di Trinil, Lembah sungai Begawan Solo (Jawa Tengah). Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bagian atas tengkorak, geraham dan tulang kaki.
b.    Pithecanthropus Soloensis
Pithecanthropus Soloensis artinya manusia kera dari Solo. Fosil ini ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran, tepi sungai Begawan Solo pada tahun antara 1931 – 1933. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak dan tulang kening.
c.     Pithecanthropus Mojokertensis
Pithecanthropus Mojokertensis artinya manusia kera dari Mojokerto, fosil ini ditemukan oleh duyfjes, G.H.R Von Koenigswald dan Cokro Handoyo di Perning, Mojokerto, Jawa Timurpada tahun 1936. Fosil ini sering disebut juga Pithecanthropus Robustus artinya manusia kera yang besar dan kuat tubuhnya.

c.     Homo
Fosil jenis Homo merupakan jenis fosil yang paling muda dibandingkan fosil – fosil manusia purba jenis lain. Para ahli sering menyebut fosil fosil jenis Homo ini dengan Homo Erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo sapiens (manusia cerdas atau bijaksana).

Ciri – ciri jenis Homo antara lain :
1)    Tinggi tubuh 130 – 210 cm.
2)    Volume otak lebih berkembang disbanding Meganthropus dan Pithecanthropus.
3)    Otot kunyah, gigi dan ranhang sudah menyusut.
4)    Tonjolan kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
5)    Mempunyai ciri – ciri ras Mongoloid dan Austramelanesoid.

Jenis – jenis fosil Homo adalah :
a). Homo Soloensis
Homo Soloensis artinya manusia purba dari Solo. Fosil ini ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald dan Weidenrich pada tahun 1931 – 1934 di lembah Sungai Bengawan Solo. Fosil ini ditemukan berupa tulang tengkorak. Dilihat dari volume otaknya dapat diketahui bahwa jenis ini sudah merupakan manusia bukan manusia kera.
b). Homo Wajakensis
Fosil jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di daerah Wajak dekat Tulungagung (Jawa Timur). Diperkirakan telah padai membuat alat – alat dari batu maupun tulang mereka juga diperkirakan telah mengenal cara memasak makanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar